ALTERNATIF DARI ALLAH UNTUK MANUSIA Bagian I

dunia-akhirat     Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 201 :
Dan di antara mereka ada yang berkata : Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jagalah kami dari siksaan neraka.(QS. Al-Baqarah 201)


Nasib manusia tergantung pada upaya manusia itu sendiri, bagi Allah sama saja. Dengan Maha Terhormat, Maha Kuasa dan Maha Kaya Nya, apabila manusia seluruh dunia taat beribadah kepada Allah, tidaklah menambah Terhormat Nya, sebaliknya apabila manusia di dunia tidak satu pun yang taat dan beribadah, tidak sedikitpun mengurangi Kehormatan Allah. Maka ayat tadi memberi alternatif bagi manusia mana yang ditetapkan jadi pilihannya.
1. Kelompok manusia yang dalam hidupnya hanya menginginkan sukses dan kebahagiaan di dunia, namun sama sekali tidak pernah berfikir untuk kebahagiaan kehidupan akhirat, bahkan ada yang tidak percaya adanya balasan dan kehidupan akhirat, sehingga dalam pemikirannya bahwa kesenangan hidup di dunia adalah segalanya, semua cara dibenarkan.
2. Kelompok manusia yang berkeyakinan bahwa setelah mati pasti ada balasan dari semua yang telah diperbuat selama hidup di dunia, sehingga mereka berupaya untuk sukses dalam hidup di dunia serta sukses kehidupan akhiratnya.
Untuk meraih sukses keduanya, kita telaah Qaidah Ushul Fiqh, dengan hujjah Al-Qur’an dan Hadits Shahih. merupakan unsur-unsur kehidupan yang lengkap, rasional dan sebagai motivator bagi manusia untuk mewujudkannya. Realita, banyak manusia tidak memahami dan tidak ingin mengerti, sehingga dalam kehidupannya hanya melakukan sebagian unsur saja tanpa upaya memenuhi unsur lainnya. Padahal unsur-unsur kehidupan yang harus dipenuhi untuk meraih hasanah di dunia dan hasanah di akhirat antata lain : Ubudiyah ; ‘Asyirah ; Manzilah ; Ma’isyah ; Dzurriyyah ; Faqihah ; ‘Afiyyah.
     ‘UBUDIYAH
Unsur Ibadah. Hal ini sangat penting dan menentukan keberhasilan manusia sesuai qodratnya. Seperti Firman Allah QS Al-Bayyinah 5 :
Dan tidaklah mereka diperintah, melainkan supaya menyembah Allah, serta mengikhlaskan agama bagi Nya (beribadah mengharap Ridla Nya).
Ibadah adalah penghambaan diri, ketundukan atau pengabdian manusia kepada Tuhan, Fardlu ‘Ain hukumnya. Meskipun hidup mewah, apabila tanpa ibadah, manusia sebagai hamba Allah tak akan pernah merasakan hidup sakinah.
     ‘ASYIRAH
Pergaulan : Hablum Minan Nas. Pandai menghormati dan menghargai kelebihan orang lain, tak hanya suka mencari-cari kelemahan mereka. Senantiasa berupaya selama hidupnya apa yang diperbuat dapat bermanfaat kepada sesama, tidak memadlaratkan orang lain. Sabda Nabi Muhammad::
Sebaik-baik manusia: ialah yang memberi manfaat kepada sesama manusia
Prinsip hidup ini sangat mulia yaitu dapat membantu dan mengurangi beban bagi saudaranya. Namun hal ini saat sekarang semakin langka, banyak yang menerapkan prinsip “junudul Ghair” menganggap orang lain yang tidak sama sebagai musuh. Astaghfirullah. Bersambung…

Oleh Drs. H. Mahmudi, M.Ag (Ketua BAZNAS Kab. Sragen)

Dimuat di Harian Joglosemar (26 Juni 2015)

Scroll to Top