CIRI – CIRI ORANG YANG BERTAQWA

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.(QS. Ali Imran: 136)

Ayat tersebut di atas adalah jaminan kebenaran dan keridhaan Allah bagi orang-orang yang bertaqwa. Serta janji Allah untuk manusia agar dalam hidupnya menjadi orang yang bertaqwa dan nanti ampunan dan surga dari Allah akan diberikan. Berdasarkan keterangan ayat tersebut di atas, kita merasa bangga dan berbahagia menjadi orang yang bertaqwa.

Kalau kita mengaku sebagai orang yang bertaqwa dan merasa bangga dan bahagia sebagai orang yang bertaqwa sudah barang tentu memerlukan pembuktian sebagai ciri-ciri orang yang bertaqwa. Dalam Al-Qur’an telah difirmankan Allah SWT dalam surat Ali Imran : 133 – 135:

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,

134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Pengertian yang dapat kita ambil dari ayat di atas ada empat (4) ciri yang harus dimiliki orang-orang yang bertaqwa adalah:

Pertama, gemar berinfaq (memberikan sedekah)

Orang yang bertaqwa mempunyai sifat gemar berinfaq atau memberikan sedekah baik di waktu lapang maupun sempit, berinfaq yang dilandasi hati ikhlas bukan karena mengharap sanjungan dari sesama manusia melainkan hanya semata-mata mencari ridho Allah, maka ia tergolong sebagai orang yang pandai mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah. Dan orang yang demikianlah nantinya akan memperoleh balasan kenikmatan yang berlipat ganda dari Allah. Sebagaimana difirmankan oleh Allah :

7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kedua, mampu menahan amarah

Ciri orang yang bertaqwa yang kedua ialah memiliki kemampuan mengendalikan amarah. Sifat amarah yang tidak terkendali akan membawa dampak yang negatif pada diri sendiri dan juga kepada orang lain. Memang kadang terasa sulit kita menghilangkan sifat amarah secara total, namun kita harus berusaha untuk menguranginya dan menahan atau mengendalikannya agar tidak meledak, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan lebih dapat diminimalisir dibandingkan sifat amarah yang tidak dikendalikan. Sifat suka marah atau orang yang sukar mengendalikan amarah dapat berbahaya bagi kesehatan psikis, hati serta jasmaninya. Karena marah itu mengeluarkan energi yang tidak terkendali dan karena hatinya tidak jernih. Sifat suka marah bukti hatinya labil dan tidak tenang.

Ketiga, suka memaafkan (kesalaha) orang lain

Orang yang bertaqwa memiliki sifat mau dan suka memaafkan (kesalahan) orang lain, sekalipun orang lain belum meminta maaf kepadanya. Adalah akhlak yang amat terpuji, orang memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah kepadanya sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya. Maka bagi orang yang bertaqwa tidak ada kamus tiada maaf bagimu. Rasulullah mengajarkan agar kita memaafkan kesalahan orang, agar hati kita menjadi sehat.

Orang yang bertaqwa, dia dapat dan suka memberikan maaf kepada orang lain, baik orang tersebut dalam posisi salah atau benar, baik orang tersebut minta maaf atau tidak, itulah ciri yang sebenarnya bagi orang yang bertaqwa.

Keempat, apabila mengerjakan perbuatan keji atau mendhalimi diri sendiri, segera (menyadari) mengingat Allah dan memohon ampunan atas dosa-dosanya kepada Allah serta berjanji tidak mengulangi perbuatan dosanya.

Yang dimaksud perbuatan keji (faakhisyatan) ialah dosa besar yang akibatnya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, sedangkan yang dimaksud mendhalimi diri sendiri adalah melakukan dosa yang akibatnya hanya menimpa diri sendiri baik besar atau kecil.

Dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah orang yang mau bertaubat, tidak mengulangi atas perbuatan dosanya. Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan, dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan adalah orang-orang yang mau bertaubat.

Oleh : Tim Vaksinasi Ruh